05-06-2026
WIB
Sejarah Pajang
Kelurahan Panjang memiliki sejarah yang panjang dan penting dalam perjalanan peradaban di Jawa. Nama Pajang sudah dikenal sejak era Majapahit. Tercatat dalam, kitab Negawakertagama (1365 M), daerah Pajang merupakan wilayah yang istimewa. Bahkan, Prabu Hayam Wuruk (raja Majapahit) pernah mengunjungi daerah ini duka kali pada tahun 1275 Saka dan 1279 Saka. Pada masa itu, Pajang merupakan wilayah kekuasaan adik Hayam Wuruk, yaitu Dyah Nertaja, yang dikenal sebagai Bhre Pajang atau Bharata I Pajang. Dari dinasti Pajang inilah nantinya lahir raja Majapahit, Wikramawardhana.
Ketika memasuki masa Kesultanan Demak, setelah kematian Sultan Trenggana, para wali menunjuk Jaka Tingkir (yang juga dikenal sebagai Mas Kerebet), menantu Sultan Trenggana, sebagai penggantinya. Dengan Keputusan ini, ibu kota Kesultanan Demak dipindahkan oleh Jaka Tingkir ke Pajang pada tahun 1568, kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Sultan Hadiwijaya. Perpindahan ibu kota di wilayah Pajang membawa perubahan besar, tidak hanya dalam politik, tetapi juga dalam tatapan sosial dan ekonomi
masyarakatnya. Pajang memiliki letak geografis yang strategis, berada di dataran rendah, tepat di pertemuan Sungai Pepe dan Sungai Dengkeng. Wilayah ini subur, sehingga dikenal sebagai "Lumbung Pangan" di Jawa. Masyarakat Pajang hidup secara agraris dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Dalam bidang keagamaan, Pajang menjadi tempat penting bagi penyebaran Islam. Salah satu bukti adalah konversi sebuah pura di Laweyan menjadi masjid di bawah bimbingan Ki Ageng Beluk dan Ki Ageng Henis, penasihat Sultan
Hadiwijaya. Transformasi ini dilakukan dengan pendekatan damai dan harmoni. Secara budaya, Pajang memberikan kontribusi dalam seni tradisional dengan menciptakan wayang model baru yang lebih kecil, yaitu "Wayang Kidang Kencana". Pendahuluan 8 Kehidupan ekonomi masyarakat juga didukung oleh keberadaan Pasar Laweyan yang menjadi pusat perdagangan, serta Bandar Kabanaran yang memungkinkan akses melalui jalur sungai. Namun, Kesultanan Pajang akhirnya runtuh karena konflik dengan Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Setelah kemenangan Mataram, pusat pemerintahan Jawa beralih ke Mataram, sementara Pajang kehilangan pengaruh politiknya.